Thursday, September 24, 2015

Pendidikan adalah Investasi Orang Tua!

Baiklah, mari kita lanjut ke yang nomor 3. Investasi Pendidikan. Jujur, saya menemukan hal ini baru ketika mengadakan workshop di sekolah itu. Iseng saya bertanya, apa investasi yang pernah kalian atau orang tua kalian lakukan hingga saat ini? Ada satu celetukan, yaitu ‘pendidikan’. Dari celetukan ini, saya seperti flashback ke belakang dan mengingat dalam kehidupan saya bahwa begitu banyak orang yang mengatakan ‘pendidikan’ adalah investasi terbesar mereka.

Apakah salah bahwa ‘pendidikan’ digolongkan sebagai investasi? Agar pembahasan kita terstruktur, marilah kita lihat kembali apakah pendidikan memenuhi 2 dalil investasi saya.


Dalil Pertama


Dalil pertama: investasi adalah aktivitas menunda menikmati daya beli hari ini untuk memperoleh daya beli yang lebih besar di kemudian hari. Dari pengertian ini, sangat jelas bahwa investasi memenuhi premis pertama.

Perlu dicatat, dalil pertama mengandung dua premis dan premis pertamanya adalah: ‘aktivitas menunda menikmati daya beli hari ini’. Jelas, orang tua dari setiap orang akan dengan rela menyisihkan gajinya untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Hal ini sangat sesuai dengan dalil investasi dan merupakan penunaian tugas yang mulia sebagai orang tua.

Mari kita maju ke premis kedua. Premis kedua berkata: ‘untuk memperoleh daya beli yang lebih besar di kemudian hari’. Marilah kita cermati secara logis dan dengan kepala dingin, untuk menjawab pertanyaan: ‘apakah ini benar?’

Apabila dipikir secara logis, memperoleh pendidikan yang baik pastinya sebuah meningkatkan kesempatan secara signifikan untuk seseorang memperoleh pekerjaan yang baik. Apalagi, katakanlah seseorang mulai mengenyam pendidikan pada usia 5 tahun dan selesai pada usia 22 tahun. Dengan pendidikan 17 tahun, seseorang dapat bekerja hingga usia 55 tahun, atau 33 tahun. Lebih lagi, gaji fresh graduate di perusahaan menengah di Indonesia berada di sekitar 5-6 juta.

Baiklah, hingga poin ini saya yakin teman-teman setuju dan serta merta mengiyakan dalil pertama investasi.

Pertanyaannya adalah, dengan gaji sebesar ini, perlu berapa lama seseorang untuk dapat mengembalikan semua investasinya?

Dengan asumsi biaya SPP SD adalah 500.000 per bulan, SPP SMP sebesar 800.000 sebulan, SPP SMA sebesar 1.200.000 per bulan, dan uang kuliah hingga lulus sebesar 200juta, maka perlu hingga 61 bulan untuk mengembalikannya.


Dalil Kedua


Mari kita lihat dalil kedua investasi: mampu memasukan uang ke kantong pemiliknya bahkan ketika pemiliknya sedang tidur. Nah, kalau masalah ini kita perlu mendefinisikan kata ‘pemilik’ tersebut. Apabila maksudnya adalah orang tua kita, urusannya sudah sangat emosional. Jelas, orang tua tidak mengharapkan apapun dari anaknya selain tumbuh menjadi anak yang berhasil, atau istilahnya: ‘jadi orang’. Agar dapat mendapat sudut pandang yang lebih logis, marilah kita lihat dari sudut pandang sang anak. Lagipula, saya sangat yakin apabila sebagian besar orang tua yang telah selesai menyekolahkan anaknya hingga S1 sudah dapat tidur dengan jauh lebih pulas. Hehehe.

Namun, melihat 61 bulan sebagai payback period-nya, pasti ada sebagian besar yang merasa terlalu lama.

Apabila kita melihat kedua dalil investasi, sebenarnya ini hanyalah masalah asumsi. Orang tua yang telah berhasil memberi anaknya pendidikan dengan baik, jelas memberi bekal yang luar biasa. Seseorang yang telah ditempa pendidikan yang baik akan memiliki seluruhnya untuk menjadi profesional yang unggul. Mereka akan dengan cepat mencapai gaji belasan bahkan puluhan juta rupiah, tentunya dengan rencana karir yang tepat. Mungkin 61 bulan tersebut bisa diperpendek menjadi hanya 20-30 bulan, tentu bukan hal yang buruk mengingat ia masih punya 30 tahun usia produktif ke depannya.

Pendidikan tersebut jelas memberi orang tua kenyamanan dan ketenangan sehingga dapat 'tidur dengan pulas'.


Masalahnya Ada di Sistemnya!


Masalahnya ada di si anak. Dengan pendidikan yang baik, anak tersebut kini menjadi profesional yang harus menukar waktu, tenaga, dan pikirannya demi uang untuk kembali berinvestasi ke pendidikan anaknya lagi. Alhasil, sebagian besar populasi manusia hanya sanggup pensiun setelah anaknya lulus kuliah.

Sistem pendidikan yang ada, tidak mengajarkan peserta didiknya untuk berinvestasi sehingga dapat pensiun lebih dini tanpa mengorbankan apapun. Kecerdasan yang diajarkan, hanyalah bersifat teknis untuk disumbangkan ke pekerjaannya. Tentu, penulis sangat menyayangkan ini.

Singkatnya, 'investasi pendidikan' yang dilakukan orang tua sifatnya hanya sekedar memindahkan tanggung jawab 'bekerja' dari orang tua ke anak. Orang tua dapat pensiun bukan karena telah memiliki arus uang masuk pasif yang lebih besar daripada kebutuhan sehari-harinya, tetapi sesederhana karena tugas mendidik anaknya telah selesai.

Pada akhirnya, tetap saja investasi pada pendidikan dapat dikatakan benar investasi bagi orang tua. Namun, akan jauh lebih baik apabila investasi pada pendidikan dibarengi dengan mempelajari investasi lainnya sehingga akan semakin banyak orang yang mampu pensiun sebelum anak mereka lulus kuliah.

Untuk mempelajari investasi apa yang dapat membantu seseorang pensiun sebelum anak mereka lulus kuliah, tunggu postingan saya selanjutnya! Saya akan membahas beberapa instrumen yang benar-benar sifatnya investasi untuk membantu anda menciptakan uang sambil tidur!

Ditulis oleh: Fanuel Akwila
LINE/Instagram: fanuelakwila
Facebook: Akwila Fanuel
E-mail: akwila.fanuel@gmail.com
Handphone: 087774523385

No comments:

Post a Comment