Tuesday, September 15, 2015

El Nino Terbesar Datang, Harga CPO Terus Melonjak

Image 
Dampak El Nino sudah terasa. Indikasinya curah hujan relatif rendah sepanjang Agustus - September 2015. Curah hujan yang rendah mengakibatkan gagal panen di sejumlah negara, terutama Australia. Harga komoditas, khususnya minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mulai beranjak naik. 


Berdasarkan data National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat dan Met Office Inggris, El Nino yang akan datang diperkirakan menjadi angin panas terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950.


El nino adalah pola cuaca yang membawa kondisi kering bagi daerah Asia Tenggara, India dan Australia. Sebaliknya, fenomena ini membawa cuaca lembab ke kawasan Amerika dan Asia Utara.
Daerah di Indonesia yang telah terkena dampak El Nino meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Harga CPO Malaysia pada penutupan perdagangan Senin, 14 September 2015, naik 2,78 persen menjadi RM2.192 per ton dari sebelumnya RM2.140 per ton.  Jika dibandingkan dengan harga terendah tahun ini RM1.867 per ton pada 26 Agustus 2015, harga CPO kemarin telah melesat 17,4 persen.

Pergerakan Harga CPO Sejak  2005 - 14 September 2015

Sumber: Bloomberg

Naiknya harga CPO mendorong kenaikan harga saham beberapa perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Sejak 26 Agustus hingga penutupan kemarin, harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) telah naik sebesar 20,6 persen menjadi Rp18.125 dari sebelumnya Rp15.025.

Harga saham PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) sudah terbang  27,3 persen menjadi Rp1.210 dari sebelumnya Rp950 dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) naik 13,8 persen menjadi Rp463 dari sebelumnya Rp407.

Peristiwa El Nino bukan pertama kali terjadi. Fenomena cuaca itu pernah menerjang pada akhir 2009 hingga mendongkrak harga CPO sekitar 21 persen dalam setahun
Selain itu pada Mei 2015, harga CPO naik 5 persen secara month to date menjadi RM2.225 per ton dari sebelumnya RM2.128. Kenaikan ini terjadi setelah ada berita dari Badan Meteorologi Australia bahwa ENSO Tracker (El Nino–Southern Oscillation) mereka sudah naik dari status semula 'alert' menjadi 'El-Nino' -- indikator di mana topan ini akan datang. Inilah untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Australia mengumumkan status El Nino.

El Nino dengan level intensitas moderat juga pernah melanda Indonesia pada kurun 2009-2010.
Menurut riset Bank Mandiri, akibat dari El Nino tersebut produksi CPO Malaysia pada 2010 turun 3,5 persen menjadi 17 juta ton dari semula 17,6 juta ton. Sejalan dengan itu, harga CPO pun bergerak naik. Harga rata-rata CPO pada 2010 naik menjadi RM2.787 per ton dari semula RM2.287 per ton pada 2009, atau naik 21,8 persen secara year on year.

Menurut Head of Research and Analysis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, harga minyak sawit diperkirakan akan terus konsolidasi dengan kecenderungan meningkat. Harga CPO akan bergerak di garis support RM 2.050 dan level resisten RM 2.230 -RM2.280 per metrik ton sampai akhir 2015.

Namun, ada faktor lainnya yang cukup memengaruhi harga CPO tahun ini, yakni pelemahan ekonomi dunia. Produksi yang baik, tapi permintaan rendah membuat harga CPO tetap melemah.
"CPO punya tantangan berat. Produksi baik, tapi permintaan stagnan karena perlambatan ekonomi dunia," ujar Ariston.

sumber: bareksa


No comments:

Post a Comment