Saturday, September 12, 2015

Daftar Emiten Yang Terimbas Jika Rupiah 15000 per Dollar

Image 
  

Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) menilai kualitas kredit perusahaan Indonesia akan menghadapi risiko penurunan, terutama saat nilai tukar mencapai Rp15.000 per dolar AS. S&P dalam risetnya bertajuk "15,000 Rupiah To One U.S. Dollar Could Be The Level To Watch For Rated Indonesian Companies" menyebutkan depresiasi rupiah lebih lanjut dapat semakin menekan kinerja emiten yang sudah melambat akibat rendahnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Disebutkan dalam riset itu, selama enam bulan terakhir ini S&P sudah menaikkan outlook 10 emiten menjadi positif dari stabil. Sebanyak 11 emiten masih memiliki outlook stabil, termasuk dari sektor infrastruktur, pembangkit listrik dan telekomunikasi.


Sementara enam perusahaan diberi outlook negatif, termasuk dari sektor consumer goods, perkebunan, manufaktur ringan, media dan ritel.  Pada April, kurang dari 10 persen perusahaan yang berada dalam status ini. Adapun jumlah perusahaan Indonesia yang dinilai oleh S&P sebanyak 27 emiten.

Berdasarkan riset itu, porsi perusahaan yang terkena outlook negatif membesar menjadi 20 persen selama dua kuartal terakhir. Riset menyebutkan penaikan outlook peringkat delapan emiten terjadi pada Mei 2015 karena mereka mendapat dorongan dari pemerintah. Selain itu, dua emiten memiliki kinerja keuangan baik, yaitu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

Grafik Sebaran Outlook Peringkat Perusahaan Indonesia

Sumber: Riset S&P

Lantas, apakah depresiasi mata uang menjadi kunci penting yang memengaruhi peringkat perusahaan Indonesia?

S&P menilai bahwa hal itu tergantung karena sebenarnya depresiasi tidak diharapkan dapat menekan peringkat para emiten. Akan tetapi hal yang harus digarisbawahi adalah efek tidak langsung dari depresiasi rupiah terhadap operasional, marjin dan kapasitas membayar utang perusahaan.

Dari semua perusahaan yang dinilai oleh S&P, produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memiliki eksposur operasional terbesar terhadap depresiasi lebih lanjut pada rupiah. Selama tiga bulan terakhir, rating dari dua perusahaan itu diturunkan menjadi B dengan outlook negatif. Penyebabnya kondisi operasional yang berat dan utang lebih tinggi karena depresiasi rupiah. Mayoritas pengeluaran dua perusahaan itu dalam dolar AS.

Menurut S&P, GJTL dan JPFA mengahadapi daya saing dan harga yang ketat di pasar domestik. Lembaga rating itu memperkirakan marjin EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) GJTL dapat turun 10 - 10,5 persen dan sekitar 4,5 persen untuk JPFA bila nilai tukar mencapai Rp15.000 per dolar AS selama lebih dari enam bulan, dan kondisi lainnya tetap sama "Hal ini dapat mengakibatkan tekanan penurunan peringkat lebih lanjut," tulis riset tersebut.

Depresiasi rupiah lebih lanjut juga dapat semakin mempersulit refinancing dan meningkatkan biaya dana untuk perusahaan dengan utang dolar tanpa lindung nilai (unhedged) yang akan segera jatuh tempo dalam jumlah besar. GJTL, JPFA dan PT MNC Investama Tbk (BHIT) merupakan emiten yang paling terekspos karena besarnya profil utang mereka dan akan segera jatuh tempo dalam 24 bulan.

Sementara itu, produsen migas PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), perusahaan tambang PT Antam Tbk (ANTM), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan PT Bumi Resources Tbk (BRAU) juga memiliki utang dolar besar yang jatuh tempo dalam waktu dekat. Namun, mereka tidak terlalu terekspos fluktuasi nilai tukar karena pendapatan mereka berbasis dolar AS.

Tabel Nilai Utang dan Jatuh Tempo Emiten Indonesia

Sumber: Riset S&P

Dalam tabel terlihat bahwa hanya BHIT yang memiliki kas dan setara kas cukup untuk membayar utangnya. Sementara JPFA, GJTL, ENRG dan ANTM tidak memiliki likuiditas cukup. Adapun BRAU dan BUMI memang sedang mengalami kesulitan hingga sebagian utang mereka dalam status gagal bayar. Angka tersebut berdasarkan laporan keuangan Juni 2015. Namun, utang BUMI menurut posisi 31 Maret 2015 dan utang BRAU, ENRG berdasarkan laporan Desember 2014.

Bila kondisi lain masih sama, S&P menilai bahwa kualitas kredit dari perusahaan Indonesia yang dinilai akan memburuk, kecuali nilai tukar mencapai Rp15.000 per dolar AS selama 3 - 6 bulan. Pada level ini, perusahaan dengan utang tanpa lindung nilai, mengalami tekanan peringkat.
"Utang rupiah dan biaya bunga untuk perusahaan yang memiliki pinjaman dolar AS unhedged, pada 2011 dapat mencapai dua kali lipat," kata riset tersebut.

Pelemahan rupiah lebih lanjut juga mengharuskan sejumlah emiten Indonesia mengkaji kembali struktur modalnya, dengan nilai tukar yang semakin terdepresiasi. Bahkan bila mereka memiliki likuiditas cukup. Hal ini dapat menjadi masalah bagi perusahaan yang memiliki utang dolar AS tanpa lindung nilai berjumlah besar. Ditambah lagi, mereka menghadapi kondisi pasar menantang dan kebutuhan refinancing dalam jangka dekat.

sumber: Bareksa

No comments:

Post a Comment