Wednesday, September 9, 2015

Apa sih Sebenarnya Investasi?

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya diundang ke sebuah sekolah di kawasan Bintaro untuk membawakan materi mengenai investasi di pasar saham. Kebetulan, sekolah itu juga merupakan sekolah saya. Pengalaman tersebut menarik bagi saya mengingat siswa SMA boleh dikatakan masih awam mengenai dunia ini.

Menurut saya pribadi, ada satu materi yang sangat menarik untuk dibahas pada kesempatan kali ini. Materi tersebut adalah mengenai investasi.


Kata investasi mungkin sudah sangat umum didengar oleh orang kebanyakan. Tidak terkecuali siswa SMA pun sekarang sudah tidak kaku lagi menggunakan istilah investasi. Permasalahannya adalah pengertian investasi itu sendiri sangat bias. Hingga saat ini, ketika saya bertanya mengenai pengertian investasi, hampir 100% orang berkata bahwa investasi adalah membeli sebuah barang yang pada masa yang akan datang dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya.

Baik baik, mungkin sebagian besar dari pembaca yang budiman tidak setuju dengan pernyataan saya ini. Saya akan mulai dengan sebuah kisah yang dituturkan oleh teman saya, kebetulan ayahnya kaya, dan ia terkenal karena menceritakan tentang kisah ayahnya. Baiklah, saya yakin pembaca sekalian sudah tahu siapa beliau. :)

Alkisah di suatu masa, ada sebuah desa nan jauh di sana. Desa tersebut sangat makmur dan warganya sejahtera. Di desa tersebut ada satu masalah yang sangat penting, kekurangan air bersih. Untuk warga desa tersebut menikmati air, mereka perlu berjalan sekitar 1 kilometer untuk menimba air di danau terdekat.

Singkat cerita, kepala desa tersebut memberi kesempatan warga desa tersebut untuk menjual air di desa itu. Dua pemuda di desa itu mengangkat tangan setuju. Pemuda pertama langsung berlari ke pasar, membeli dua buah ember dan langsung berlari ke danau untuk menimba air. Sementara, pemuda kedua pergi dari desa sementara waktu.

Pemuda pertama menikmati bulan-bulan penuh kemakmuran. Setiap air yang ia timba, diharga $1 per liter. Tanpa saingan, ia tetap bekerja dengan keras. Dari pukul 6 pagi hingga 5 sore setiap harinya, dari hari Senin hingga Jumat. Pemuda tersebut kini semakin makmur.

Namun, ada masalah yang dikeluhkan warga. Air dari pemuda tersebut kadang kotor dan berbau kurang sedap. Masalah yang lebih besar adalah tidak tersedianya air di malam hari dan pada akhir minggu.

Enam bulan berselang, pemuda yang satunya datang lagi ke desa. Ia membawa beberapa investor untuk datang ke desa tersebut. Di saat yang bersamaan, ia menyewa seorang mandor yang ahli membuat pipa dan beberapa pekerja untuk membangun saluran air. Di tengah desa, pemuda tersebut mendirikan sebuah bak dari beton yang besar untuk menampung air dari danau. Ia juga mengangkat seorang CEO untuk mengatur bisnisnya.

Setelah enam bulan kemudian setelah kepulangannya, seluruh infrastruktur telah terbangun dengan baik. Kini, air mengalir ke desa itu setiap detiknya, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Air dari perusahaan itu dijual dengan harga 50 sen per liter. Hebatnya lagi, air yang dialirkan langsung dari pipa tersebut tidak beraroma dan tawar.

Pemuda yang tadi membeli ember, melihat kejadian ini, membeli 2 ember lagi untuk membawa 4 buah ember sekaligus. Bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore, bahkan pada akhir minggu. Untuk tetap bisa bersaing, ia juga menurunkan harga airnya menjadi 50 sen per liter.

Pembaca yang budiman, anda pasti sudah tahu ke mana cerita ini akan bermuara. Tentu, teman-teman sekalian sudah mengerti bahwa pemuda yang membangun pipa air saat ini tengah bersantai dan bermain dengan anak-anaknya. Sementara, uang terus mengalir. Di lain pemuda yang membeli ember, hingga saat ini terus mengangkut ember bahkan di akhir minggu. Waktu untuk keluarganya sudah benar-benar tidak bersisa.

Teman-teman pasti sudah paham, bahwa pemuda yang membangun pipa adalah ia yang berinvestasi. Sementara, yang membeli ember adalah orang yang tidak memiliki investasi apapun.

Dari cerita ini, kita bisa simpulkan dua hal yang sangat penting terkait investasi:
  1. Investasi, secara sederhana, adalah aktivitas menunda untuk menikmati daya beli hari ini untuk mendapat daya beli yang lebih besar di kemudian hari.
  2. Investasi yang tepat dilakukan, memasukan uang ke kantong pemiliknya setiap saat bahkan saat tidur.

Mengaitkan dengan pembahasan saya sebelumnya, membeli sebuah barang untuk dijual di kemudian hari untuk mendapat harga yang lebih tinggi hanya memenuhi kaidah pertama dari investasi. Setuju? Untuk suatu hal dapat dikatakan benar-benar investasi, hal tersebut harus memiliki kedua hal tersebut secara utuh.

Anda setuju dengan saya? :)

Salam Investasi Pemuda Indonesia!

Ditulis oleh: Fanuel Akwila
LINE/Instagram: fanuelakwila
Facebook: Akwila Fanuel
E-mail: akwila.fanuel@gmail.com
Handphone: 087774523385

No comments:

Post a Comment