Monday, August 31, 2015

News: RIMO Right Issue di Harga Rp.265,-


Berikut adalah kumpulan berita aksi korporasi emiten saham yang kami kumpulkan dari berbagai media.

PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO)
RIMO mematok harga rights issue Rp265 per saham, menjadikan target raihan dana hingga Rp8,11 triliun. Aksi korporasi tersebut berpotensi menjadi sebuah backdoor listing karena dananya akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan properti yang asetnya lebih besar dari milik perseroan.


Dalam prospektusnya, perseroan mengumumkan rencana penerbitan 30,6 miliar saham baru dengan nominal Rp250 per lembar dan rasio 1:90 (pemegang 1 saham lama berhak atas 90 saham baru) dengan harga penawaran Rp265 per lembar. Bila pemegang saham lama tidak mengeksekusi haknya, kepemilikan sahamnya terdilusi 98,9 persen. Sementara itu, pembeli siaga aksi korporasi emiten ini adalah Haven Capital Pte Ltd, pengelola produk Haven Fund II.

PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA)
NRCA berencana untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimum mencapai Rp108 miliar. Nilai tersebut diasumsikan dapat membeli kembali sejumlah saham maksimal 120 juta lembar. Adapun, batas maksimal harga saham dari aksi buyback tersebut adalah Rp900 per saham

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA)
ERAA membentuk usaha patungan di Singapura dan Malaysia sebagai bagian dari rencana ekspansi perseroan. Djatmiko Wardoyo, Sekretaris Perusahaan Erajaya Swasembada, mengatakan perseroan membentuk joint venture dengan Alphabright Distribution Pte. Ltd. di Singapura yang bernama Era International Network Pte. Ltd.
Perseroan juga membentuk perusahaan patungan dengan warga negara Malaysia Li Chau Ging bernama Era International Network Sdn. Bhd. Tujuan pembentukan usaha patungan ini sesuai dengan rancana pengembangan bisnis perseroan di bidang distribusi telepon seluler di Singapura dan Malaysia.

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)
Setelah batal menerbitkan surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat senilai US$200 juta, SSIA mengkaji penerbitan obligasi berdenominasi dolar Singapura senilai S$100 juta pada bulan depan. Seperti diketahui, karena kondisi pasar yang tidak mendukung, emiten properti dan konstruksi tersebut membatalkan rencana penerbitan notes berdenominasi dolar AS belum lama ini.
Presiden Direktur SSIA Johanes Suriadjaja mengatakan penerbitan obligasi dolar Singapura itu merupakan alternatif pendanaan untuk membiayai rencana ekspansi perseroan. Selain itu, perseroan juga tengah menjajaki penerbitan obligasi berdenominasi rupiah senilai Rp1 triliun. Hal ini merupakan opsi lain apabila pasar dolar Singapura tidak kondusif. Jika hal itu terjadi, penerbitan obligasi dalam rupiah baru dilakukan pada akhir tahun ini.

No comments:

Post a Comment